Petang itu kurasakan terlalu asing,
Hati ini gusar sekali,
Bagai direnggut dan dikasari,
Aku tertanya-tanya,
Mengapa ya wahai hatiku?
Oh tuhanku,mengapa?
Lalu kucuba menghibur rasa,
Namun pedih hati ini begitu ngilu,
Kugagahkan hati bertanya pada sore yang tenang,
Kutanya pada Ledang yang gagah,
Namun monolog ini hanya dijawab sepi..
Malam itu,aku lelapkan kelopak mata ini,
Nyenyak sekali,
Gundah itu bagaikan ombak pasang yang surut,
Perginya mendadak tanpa dipaksa,
Syukur aku wahai Tuhan,
Hamba yang walang ini lena mendakap dinginnya malam,
Tiba-tiba,
Lenaku digamit panggilan yang tidak diundang,
Aku penat, monolog aku...
Esok sahaja bisa kita bicara,
''Dia pergi menghadap Tuhan-nya'',
Saat itu,kurasakan bagai ditusuk sembilu,
Oh hati,mungkinkah ini petandanya,
Hilangnya dia sebagai sahabat,
Hilangnya dia sebagai teman,
Kuhanya bisa bicara pada hari,
Pada sore yang cemerlang,
Juga pada Ledang yang menongkat hari-hari tanpanya
Friday, 25 November 2011
Saturday, 12 November 2011
Dalam sepi paling dalam,
Rengsa hati kian menikam,
Dalam kerinduan yang menggema,
Kutemui melodi paling indah,
Melodi sepi beralun damai,
Merenggut setiap nadi denyut jantungku....
Jika kerinduan ini pengubat sebuah sepi,
Biarkan...
Jika pertemuan menjadi duri paling tajam,
Rela hati ini menggulum rasa,
Ya,penantian,
Figuranya,hidup ini suatu penantian,
Menanti sebuah noktah abadi
Rengsa hati kian menikam,
Dalam kerinduan yang menggema,
Kutemui melodi paling indah,
Melodi sepi beralun damai,
Merenggut setiap nadi denyut jantungku....
Jika kerinduan ini pengubat sebuah sepi,
Biarkan...
Jika pertemuan menjadi duri paling tajam,
Rela hati ini menggulum rasa,
Ya,penantian,
Figuranya,hidup ini suatu penantian,
Menanti sebuah noktah abadi
Subscribe to:
Comments (Atom)